Kucoba pejamkan mata
Anganku mulai berkelana
Menapaki jejak masa lalu
Suka duka dalam hidupku
Hari demi hari telah terlewati
Semua terasa cepat dan tak tersadari
Peristiwa demi peristiwa terjadi
Menambah lembaran hidup ini
Berbagai perasaan bergejolak di kalbu
Kesedihan dan kegembiraan
Kemarahan dan perasaan lucu
Ingin menangis namun juga tertawa
Biarlah masa lalu menjadi kenangan
Akan kuanggap sebagai pengalaman
Menjadi pembelajaran di masa depan
Memberi warna dalam kehidupan
Jejak Masa Lalu
Percaya, Bertahan dan Berserah
Manusia tidak pernah lepas dari masalah.
Bahkan ada sebagian orang yang hidupnya tidak pernah jauh dari masalah.
Masalah sudah seperti sahabat yang tak pernah meninggalkannya.
Ketika kehidupan kita bahagia dan nyaman sangatlah mudah untuk menyaksikan kuasa Tuhan dan memuji keagungan Tuhan.
Namun bagaimana jika yang terjadi sebaliknya?
Ketika masalah datang silih berganti dan tak ada jalan keluarnya.
Kepedihan dan penderitaan terus mendera hidup.
Dapatkah kita tetap melakukan hal yang sama?
Mungkin masih ada yang tetap tak berubah walaupun cobaan datang menghadang,namun sebagian besar akan berubah dan bukan mustahil menjadi skeptis.
Perasaan lelah, dan tak berdaya akan mendorong seseorang untuk mulai meragukan Tuhan.
Bukan meragukan Dia adalah Tuhan tapi meragukan apakah Tuhan akan tetap menolong dan menyertai selamanya, dalam masalah dan kondisi apapun.
Itu adalah hal yang wajar dan manusiawi.
Saya pribadi pernah merasakannya.
Berada dalam situasi lelah, sendiri dan tak berdaya.
Segala daya upaya telah dilakukan, doa tak berkesudahan telah di panjatkan.
Air mata telah kering, lidahpun menjadi kelu.
Rasanya ingin menyerah, karena tak ada lagi kekuatan untuk bertahan.
Dada rasanya begitu berat dihimpit masalah hidup.
Yang dapat terucap hanyalah :"dimanakah Engkau Tuhan?"
Namun tak terdengar jawaban apapun.
Semua tetap sama, tetap kelam dan dingin.
Tak ada jalan keluar, tak ada yang mendengar, tak ada yang peduli, bahkan Tuhanpun telah menjauh.
Hanya kepedihan dan kepahitan yang menemani.
Tapi benarkah..
Tuhan diam?
Tuhan tak mendengar?
Tuhan menjauh?
Tuhan berpangku tangan?
Untuk menjawabnya cobalah ingat perjalanan hidup kita beberapa tahun kebelakang.
Benarkah semua yang terjadi cuma kebetulan?
Benarkah semua yang terjadi karena kehebatan dan usaha kita?
Jika kita mencoba mengingat dan menceritakan pimpinan dan penyertaan Tuhan mungkin akan memerlukan waktu yang sangat lama dan takkan cukup kosakata untuk merangkai pengalaman bersama Tuhan.
Hanya saja seringkali kita lupa dan tidak peka terhadap pimpinan dan penyertaan Tuhan, bukan hanya dalam hal-hal besar tapi juga dalam setiap hal dalam keseharian.
Hal-hal sederhana yang jika kita pikirkan kembali sebenarnya adalah hal yang luar biasa.
Kita terlalu egois, yang terus meminta tanpa pernah berpikir apakah kita layak menerimanya.
Seharusnya kita menyadari satu hal :
Jika kita tidak pernah menolak dan mempertanyakan hal baik yang terjadi dalam hidup kita, selayaknyalah kitapun tidak mempertanyakan hal buruk yang terjadi.
Ketika doa tampak tak dijawab,ingatlah bahwa semua belum berakhir.
Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan dan menghakimi Tuhan.
Ketika semua jalan menjadi buntu,
yakinlah tak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya.
Tuhan adalah Allah yang luar biasa dan mempunyai kuasa, tiada yang mustahil bagi-Nya
Ketika kenyataan tak sesuai harapan,percayalah Tuhan tau yang terbaik bagi kita.
Serahkan semua pada-Nya.
Ketika ketakutan menjadi kenyataan, percayalah kamu tak sendiri.
Tuhan akan memberi kekuatan dan penghiburan.
Ketika keraguan akan masa depan datang, ketahuilah bahwa Tuhan sedang merangkai karya yang indah bagi kita. Rencana-nya tak pernah terlambat dan salah.
Yang perlu kita lakukan hanyalah percaya, bertahan dan berserah.
Dan lihatlah bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup kita :)
07 juni 2011
Hati Yang Tergores Perih
Tak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah mahluk sosial,yang membutuhkan oranglain. Tak ada manusia yang bisa bertahan hidup tanpa mempunyai seorang teman, sahabat, kekasih ataupun keluarga. Bahkan ada suatu statement yang berkata bahwa seseorang dapat bertahan dalam suatu komunitas hanya jika ia mempunyai orang yang dekat dengannya minimal dua orang dalam komunitas tersebut.
Seseorang pasti dan akan selalu berhubungan serta berinteraksi dengan orang lain.
Hubungan dengan orng lain dapat membuat hidup seseorang berwarna dan lebih bermakna.
Hubungan akan memberikan semangat, dukungan dan pengertian.
Begitu berarti dan pentingnya suatu hubungan.
Apapun itu..
Baik pertemanan, persahabatan, percintaan ataupun persaudaraan.
Namun tak ada gading yang tak retak, dan tak ada hubungan yang tak menemui masalah..
Suatu hubungan begitu mudah untuk dirangkai namun sulit untuk dipertahankan.
Yang paling menyedihkan terkadang rusaknya suatu hubungan terjadi secara perlahan. Kita baru sadar ketika hubungan tersebut telah benar-benar rusak dan tak dapat lagi diperbaiki.
Bahkan kita takkan pernah tau apa masalahnya dan kapan masalah itu bermula.
Karena memang tidak ada masalah..
Hanya saja pengertian semakin berkurang, tuntutan semakin tinggi dan "ke-akuan" semakin memuncak.
Yang selanjutnya akan membuat perbedaan tampak semakin besar, pemikiran menjadi tidak selaras,dan segala sesuatu tampak tak sejalan lagi.
Menghadapi situasi seperti itu terkadang kita menyerah begitu saja. Membiarkan hubungan tersebut rusak dan memilih mengakhirinya.
Dari pada memperbaiki sesuatu yang telah rusak lebih baik menjalin hubungan yang baru.
Memilih melarikan diri.
Solusi yang sangat mudah..
Namun sebelum kita mengambil keputusan atas suatu hubungan pikirkanlah kembali bahwa kita telah melupakan sesuatu, atau lebih tepatnya mengabaikan sesuatu..
Bahwa ada hati yang tergores perih, hati yang tak berarti, namun pernah menjadi bagian hidup kita.
Ada mata yang berlinang air mata, sebuah mata yang tak bercahaya, namun dulu bersinar dan selalu memberikan tatapan hangat pada kita.
Ada seseorang yang terluka, seseorang yang tampak asing, tapi pernah membawa kecerian,kehangatan dan kebahagian untuk kita.
Tuhan Tak Pernah Lelah, Mengapa Kita Harus Menyerah?
Pria muda itu berjalan dengan lunglai. Pandangannya kosong dan diwajahnya terlihat gurat kesedihan. Keramaian dunia seperti tidak dirasakannya sama sekali. Dia tidak peduli dengan sekitarnya, dan dia juga menyadari tidak ada yang peduli dengannya. Semua tampak asing baginya.
Dia lelah dengan hidupnya, dengan semua masalah yang datang dan tak pernah berakhir.
Dia merasa tak sanggup lagi menanggung penderitaan yang menerpa hidupnya.
Sepertinya memang tak ada tempat baginya di dunia ini. Yang terpikir olehnya hanya mengakhiri semua ini.
MATI..
Sepertinya hanya itu jalan satu-satunya yang tersedia baginya.
Setelah mati semua penderitaan dan beban hidupnya akan lenyap dan berakhir. Karena hanya orang matilah yang takkan merasakan sakit dan penderitaan.
Tekadnya sudah bulat. Dia melangkah dengan yakin, di wajahnya tidak terlihat expresi apapun,karena dia sudah siap mengakhiri hidupnya.
Yang ditujunya adalah lantai atas suatu gedung bertingkat. Disitulah jalan keluar baginya. Dia berjalan perlahan dan siap untuk melompat. Pandangannya kosong, dan senyum kegetiran menghiasi wajahnya,namun tak ada sedikitpun keraguan disana.
Beberapa langkah lagi dia akan melompat dan jatuh.
Namun ketika melangkah dia menyadari ada seseorang memandangnya. Dia berhenti dan membalikkan badannya.
Seorang wanita berada tak jauh darinya.
Memadangnya dengan heran dan berkata "Kamu ingin bunuh diri?"
Pria itu hanya menatapnya dan tetap diam.
Menyadari orang yang ditanya tidak memberikan reaksi apapun wanita itu menarik nafas dan berkata
"hm.. Aku tidak perduli apakah kamu hidup atau mati. Aku hanya ingin bertanya satu hal.. Apakah kamu pernah merasakan hidup?"
Wanita itu bertanya dengan datar tapi sorot matanya memandang tajam.
Pria itu tertegun dan tak mengerti maksud wanita tersebut. Tapi ia pun enggan untuk bertanya, jadi hanya tetap diam saja.
"Aku yakin kamu belum pernah merasakan hidup. Kalau belum pernah mengapa anda sudah berencana untuk mengakhiri hidup? Belum pernah hidup, tapi sudah mau mati. Sungguh bodoh.." Ucap wanita itu sambil berlalu pergi, tanpa sedikitpun memandang pria itu. Dia sepertinya memang tidak peduli dengan pria itu.
Pria itu hanya bisa tertegun dan tanpa terasa air mata menetes dipipinya.
Perkataan wanita tak dikenal itu menyadarkannya, seketika menempelaknya. Menggugah hati dan seketika angannya mengingat perjalanan hidupnya selama ini. Wanita itu benar. Dia belum pernah benar-benar "hidup".
Selama ini dia merasa orang paling malang. Dia merasa Tuhan tak pernah adil padanya, Tuhan tak pernah peduli dengannya. Tapi seperti apakah hidupnya? Dia terus berkutat dalam kemalangan dan penderitaannya, sampai-sampai dia tak pernah peduli dengan orang disekitarnya. Dalam pikirannya orang yang harus peduli dan mengerti dia. Selama perjalanan hidupnya tak ada suatu apapun yang bermakna yang pernah dia lakukan, bahkan dia sudah lupa kapan terakhir kali bersyukur dan berdoa pada Tuhan.
Air mata tak bisa berhenti menetes dari pelupuk matanya, dia merasa sangat malu dan berdosa pada Tuhan. Terbayang kembali tuntunan dan penyertaan Tuhan dalam hidupnya, sesuatu yang selama ini tidak dia sadari dan tidak hargai.
Dia hapus air matanya dan berjalan meninggalkan tempat itu. Masih dengan lunglai, tapi kali ini matanya bersinar dan diwajahnya terlihat senyuman kecil penuh dengan kebahagian dan keoptimisan.
Dia siap kembali menjalani kehidupannya yang penuh liku dan penderitaan. Tapi kali ini tak ada perasaan takut dihatinya, karena dia tahu bahwa Tuhan berada bersamanya.
"Tuhan tak pernah lelah, Mengapa kita harus menyerah?"
20 Mei 2011
Tips bagi yang patah hati
- Menangislah, luapkan semua perasaan yang mengganjal. Itu akan membuat perasaan menjadi lega dan beban akan berkurang.
- Menjauhlah kalau memang dengan begitu membuat perasaan menjadi lebih baik. Jangan paksakan untuk terus berada disekitarnya.
- Tak perlu mengumbar perasaan cinta, karena dia sudah tau semua itu. Itu tidak akan membuat dia kembali, justru membuat anda terlihat semakin malang saja.
- Tak perlu juga mengumbar amarah dan kebencian. Itu hanya akan semakin menyiksa anda sendiri. Karena dia belum tentu sadar dan peduli.
- Berhentilah bertanya kenapa ini terjadi, dan siapa yang salah. Itu tidaklah penting, karena pada kenyataannya inilah yang terjadi. Hubungan tersebut sudah berakhir.
- Jangan memaksakan diri untuk melupakan dia kalau memang belum bisa. Tapi tetap harus ingat akan kenyataan bahwa dia hanya masa lalu sekarang. Hidup anda tidak ada hubungannya dengan dia lagi, begitu juga sebaliknya.
- Terima kenyataan dan iklaskan semua yang terjadi. Jangan membohongi diri dan tetaplah berpikir realistis.
- Jangan mengasihani diri dan bersikap seperti orang paling malang sedunia. Kenyataannya semua orang juga pernah patah hati. Dan pada akhirnya itu pasti dapat dilalui. Semua hanya masalah waktu saja.
- Berdoalah dan percayalah, Tuhan turut campur. Jadi ketika hubungan ini berakhir artinya memang itu yang terbaik. Tuhan punya rencana yang indah untuk kita semua. Untuk anda dan untuk dia juga. Seseorang telah disiapkan bagi kita, pada waktuNya yang indah. Kepahitan ini adalah awal dari kebagian yang akan datang.
- Carilah kesibukan yang membuat fokus anda teralih dari perasaan patah hati yang sedang dialami karena hidup harus terus berjalan
Jakarta, 18 Mei 2011
Good bye Bandung, Welcome Jakarta
Berpikir untuk tinggal di Jakarta buat sebagian orang Bandung pasti sedikit menakutkan dan bukan pilihan yang mudah.
Hal ini sangat wajar karna terbiasa hidup di Bandung dengan cuaca yang adem, kehidupan yang santai dan berkumpul bersama dengan sahabat serta keluarga. Jadi jika diharuskan keluar dari comfort zone dan pindah ke Jakarta dengan kehidupan yang keras dan kejam (anggapan sebagian besar orang) tentu saja akan jadi keputusan yang sulit.Hal ini juga pernah saya alami.
Bertahun tahun berada dalam lingkungan yang sama, orang yang sama, rutinitas yang sama dan berkutat dengan masalah yang sama. Rasanya sangat lelah dan jenuh.
Kurangnya tantangan membuat hidup datar dan kurang bergairah.
Lama kelamaan hidup hanya sebatas menjalani hari.
Berada dalam comfort zone membuat keberanian untuk bermimpi dan mencapai sesuatu yang besarpun semakin hilang.
Hidup nyaman dan bahagia, tapi tidak ada yang luar biasa.
Pemikiran itu terus datang. Semakin diabaikan, semakin keras menyeruak kalbu dan terus berputar-putar dalam angan.
Setelah melalui pemikiran dan pergumulan yang berat, walau berat meninggalkan teman-teman, kenangan dan semua hal yang ada di bandung, namun hidup harus berani mengambil resiko maka saya harus mengambil keputusan : Hijrah dari Bandung.











